RSS

PERMAINAN MATEMATIKA UNTUK ANAK SD

23 Apr

A. Belajar Berhitung, Mengurang, Mengali, dan Membagi dengan Mencari Pasangan Kartu

Banyak anak yang bosan dengan penyajian bahan pelajaran dengan hanya mendengarkan guru menerangkan di depan kelas, terutama sekali anak SD. Pada tingkat sekolah dasar kecendrungan anak adalah bermain. Oleh sebab itu kita sebagai guru harus bisa membuat inovasi dalam system pembelajaran yang kita lakukan. Apa yang kami buat sebenarnya hanya sebuah pengembangan dari apa yang kami telah ketahui dan kami pelajari selama ini. Permainan ini bukan sebuah inovasi baru, tetapi hanya sebuah pengembangan.

Permainan ini sangat sederhana dan dibuat dengan bahan yang sederhana pula. Berikut akan di uraikan alat dan bahan serta cara membuat dan atuaran permainannya :

  1. Alat dan Bahan

a) Kertas Karton

b) Pensil

c) Spidol warna

d) Gunting

  1. Cara Membuat

a) Buat pola pada kertas karton dengan menggunakan pensil sesuai dengan kreasi masing-masing. Lebih menarik lebih baik.

b) Kemudian gunting kertas karton sesuai dengan pola yang telah di buat.

c) Warnai dengan spidol warna dan buat soal penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian pada kertas karton yang telah berpola tadi.

d) Hasil pada soalan yang dibuat harus memiliki hanya satu pasangan pada oprasi yang berbeda. Misal soal penjumlahan 3+4 hanya memiliki terdapat satu pasangannya pada oprasi pengurangan missal hasil yang serupa 10-3.

  1. Aturan Permainan.

a) Masing-masing anak diberikan satu seet kartu yang telah memiliki pasangannya, kemudian kartu tersebut kita acak dan berikan waktu kepadanya untuk menjodohkan kartu yang telah kita acak tadi.

Cukup sederhana bukan, sebagai catatan buatlah pola semenarik mungkin dan warnailah dengan seindah mungkin agar anak-anak tertarik. Perlu diperhatikan soalan yang dibuat sesuai dengan bahan pengajaran di buku dan tingkat pemahaman siswa, banyaknya soalan tergantung kepada jumlah murid yang ada dan keinginan guru untuk menyampaikan materi yang ada. Waktu permainan tergantung waktu yang tersedia.

Diposkan oleh ivanisparizi pmt c di 21:58 0 komentar

FUNGSI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A.PENGERTIAN MEDIA

Kata media berasal dari bahasa latin MEDIUS yang secara harfiah”tengah”,”perantara”,atau “pengantar”.Dalam bahasa arab,media adalah perantara [ ] atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.Gerlach & Eli (1971) mengatakan bahwa media apabila di pahami secara garis besar adalah manusia,materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,keterampilan,atau sikap.

Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology,1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang di gunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.Di samping sebagai system penyampai atau pengantar,media juga di sebut dengan mediator.Dengan istilah mediator media menunjukan funsi atau peran nya,yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar – siswa dan isi pelajaran.Ringkas nya,media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan- pesan pengajaran.

Apabila media itu membawa pesan- pesan atau informasi tang bertujuan instruksional mengandung maksud – maksud pengajaran maka media itu di sebut media pengajaran.Jadi media secara umum adalah untuk memotivasi dan meransang kepada siswa supaya mengerti apa yang di sampaikan.Dengan kata lain,media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat meransang siswa untuk belajar.

Istilah “media” bahkan sering di kaitkan atau di pergantikan dengan kata “teknologi” yang berasal dari kata latin tekne (bahasa inggris art) dan logos (bahasa Indonesia “ilmu”).

Menurut Webster (1983:105),”art” adalah keterampilan (skill) yang di peroleh lewat pengalaman,studi dan observasi.Dengan demikian, teknologi tidak lebih dari suatu ilmu yang membahas tentang keterampilan yang di peroleh lewat pengalaman,studi dan observasi.Bila di hubungkan dengan pendidikan dan pengajaran, maka teknologi mempunyai pengertian sbb:

Perluasan konsep tentang media, dimana teknologi bukan sekadar benda,alat, bahan atau perakas, tetapi tersimpul pula sikap,perbuatan, organisasi dan manajemen yang berhungan dengan penerapan ilmu. Dalam kegiatan belajar mengajar, pemakaian kata media pengajaran di gantikan dengan istilah- istilah seperti alat pandang-dengar,bahan pengajaran (instructional material),komunikasi pandang- dengar(audio- visual communication),pendidikan alat peraga pandang(visual education),teknologi pendidikan(educational technology),alat peraga dan media penjelas.

Berdasarkan uraian beberapa batasan tentang media di atas,berikut di kemukakan cirri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan itu:

1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasaini di kenal sebagai hardware( perangkat keras),yaitu suatu benda yang dapat di lihat, di dengar atau diraba dengan pancaindra.

2. Media pendidikan memiliki pengertian non- fisik yang dikenal sebagai software(perangkat lunak),yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingindisampaikan kepada siswa.

3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.

4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun didalam kelas.

5. Media pendidikan di gunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

6. Media pendidikan dapat digunakan secara massa (misalnya: radio, televisi),kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film,slide, video, OHP),atau perorangan ( misalnya: modul, computer, radio tape/kaset, video recorder).

7. Sikap, perbuatan,organisasi, strategi, dan manajemen yang berhungan dengan penerapan suatu ilmu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran disekolah pada khususnya.

B. LANDASAN TEORETIS PENGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN

Menurut Bruner (1966:10-11) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung(enactive),pengalaman pictorial / gambar(iconic),dan pengalaman abstrak (symbolic).Pengalaman lansgung adalah mengerjakan,misalnya arti kata “simpul” dipahami dengan langsung membuat simpul. Pada tingkatn kedua yang diberi label iconic (artinya gambar atau image), kata “simpul” dipelajari dari gambar , lukisan, foto, atau film.Selanjutnya, pada tingkatan symbol , siswa membaca (atau mendengar) kata “simpul”dan mencoba mencocokkannya dengan “simpul” pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat “simppul”.Ketiga tingkatan tersebut saling berinteraksi dalam upaya memperoleh “pengalaman “(pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.

Salah satu gambaran yang paling banyak di jadikan acuan sebagai landasan teori pengunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone 0f Experience (kerucut pengalaman Dale) (Dale, 1969). Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner. Hasil belajar seseorang diproleh mulai dari pengalaman langsung (kongkret ), kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak).semakin ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu.perlu di catat bahwa urut – urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya.

Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu oleh karena ia melibatkan indra penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.

c. cirri-ciri media pendidikan

gerlach dan eli (1971) mengemukakan tiga cirri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang mendapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu(atau kurang efesien) dilakukannya

a. Ciri fiksatif (fixative property)

Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2011 in Tak Berkategori

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: