RSS

5 KELEMAHAN GURU DALAM MENGAJAR

Sebagai guru, terlebih sebagai guru SDIT seharusnya kita mafhum bahwa guru memiliki peran strategis membentuk karakter anak. Bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja. Dalam proses pembelajaran, seharusnya guru menghindari beberapa kelemahan dalam mengajar, diantaranya:

  1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir. Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.
  2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa. Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
  3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa. Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku “menyimpang” seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
  4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat. Pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
  5. Tidak melaksanakan evaluasi. Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa

Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

Sumber dari : http://www.pusatartikel.com/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 20, 2012 in Tak Berkategori

 

TUGAS ke 2 Matematika KELAS VB SDIT Ar Risalah

Perhatian : Soalnya wajib ditulis dan tugas di kerjakan pada Kertas Folio

KERJAKAN SOAL DI BAWAH INI !

1. Pak Asrik memiliki tanah berbentuk trapesium. Panjang sisi tanah yang
sejajar yaitu 10 m dan 12 m. Sedangkan jarak kedua sisi yang sejajar
8 m. Luas tanah Pak Asrik yaitu . . .  m2

2. Skala sebuah peta yaitu 1 : 1.000.000. Jika jarak antara Malang–Jember
sejauh 200 km, jarak pada peta adalah . . . cm.

3. Perbandingan uang Yuda dan Radit adalah 4 : 5. Jumlah uang Radit
sebesar Rp50.000,00. Berapakah jumlah uang Yuda?

4. Sebuah balok mempunyai panjang 10 cm, lebar 8 cm, dan tinggi 6 cm.
Volume balok tersebut adalah . . . cm3

5.  Sebuah persegi panjang mempunyai keliling 56 cm. Jika perbandingan
panjang dan lebar 4 : 3 maka luas persegi panjang adalah . . . cm2

SELAMAT MENGERJAKAN

Alamat Email Ust. Anwar : anwarazis87@yahoo.co.id

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2011 in Tak Berkategori

 

Rumus Matematika SD Kelas 5: Mudah dan Cepat

Beberapa hari terakhir ini banyak pengunjung banyak  menggunakan kata kunci,

“rumus matematika SD kelas 5.”

Ada apa dengan rumus matematika SD kelas 5?

Tampaknya banyak persoalan untuk kelas 5 SD. Berikut adalah beberapa saran Paman APIQ untum membantu anak-anak belajar rumus matematika kelas 5 SD.

1. Gunakan nalar untuk menghitung FPB KPK.
Meski terdapat banyak metode menghitung FPB KPK seperti pohon faktor atau metode sisir atau metode tegak lurus dari APIQ, pemahaman nalar adalah yang terpenting.

Contoh tentukan KPK dari: 12, 30, 40

Langsung saja jawabannya dengan nalar adalah 120. Karena 120 dapat dibagi oleh 12, 30, atau pun 40. (Selesai).

2. Hitung cepat pecahan campuran.

Pisahkan bilangan bulat dengan bilangan pecahannya. (Jangan disatukan dulu).

17\dfrac{1}{2} + 12\dfrac{1}{3} = ...

17 + 12 = 29
1/2 + 1/3 = 5/6

Jadi, 29 \dfrac{5}{6}

3. Perbandingan aljabar sederhana.

Contoh:
Perbandingan banyaknya pohon jambu dan pohon mangga adalah 3 : 5. Jika pohon jambu adalah 51 pohon maka banyaknya pohon mangga adalah….

Jawab:

3a : 5a
51 : ???

85.

Betul, banyaknya pohon mangga adalah 85 pohon.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2011 in Tak Berkategori

 

PERMAINAN MATEMATIKA UNTUK ANAK SD

A. Belajar Berhitung, Mengurang, Mengali, dan Membagi dengan Mencari Pasangan Kartu

Banyak anak yang bosan dengan penyajian bahan pelajaran dengan hanya mendengarkan guru menerangkan di depan kelas, terutama sekali anak SD. Pada tingkat sekolah dasar kecendrungan anak adalah bermain. Oleh sebab itu kita sebagai guru harus bisa membuat inovasi dalam system pembelajaran yang kita lakukan. Apa yang kami buat sebenarnya hanya sebuah pengembangan dari apa yang kami telah ketahui dan kami pelajari selama ini. Permainan ini bukan sebuah inovasi baru, tetapi hanya sebuah pengembangan.

Permainan ini sangat sederhana dan dibuat dengan bahan yang sederhana pula. Berikut akan di uraikan alat dan bahan serta cara membuat dan atuaran permainannya :

  1. Alat dan Bahan

a) Kertas Karton

b) Pensil

c) Spidol warna

d) Gunting

  1. Cara Membuat

a) Buat pola pada kertas karton dengan menggunakan pensil sesuai dengan kreasi masing-masing. Lebih menarik lebih baik.

b) Kemudian gunting kertas karton sesuai dengan pola yang telah di buat.

c) Warnai dengan spidol warna dan buat soal penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian pada kertas karton yang telah berpola tadi.

d) Hasil pada soalan yang dibuat harus memiliki hanya satu pasangan pada oprasi yang berbeda. Misal soal penjumlahan 3+4 hanya memiliki terdapat satu pasangannya pada oprasi pengurangan missal hasil yang serupa 10-3.

  1. Aturan Permainan.

a) Masing-masing anak diberikan satu seet kartu yang telah memiliki pasangannya, kemudian kartu tersebut kita acak dan berikan waktu kepadanya untuk menjodohkan kartu yang telah kita acak tadi.

Cukup sederhana bukan, sebagai catatan buatlah pola semenarik mungkin dan warnailah dengan seindah mungkin agar anak-anak tertarik. Perlu diperhatikan soalan yang dibuat sesuai dengan bahan pengajaran di buku dan tingkat pemahaman siswa, banyaknya soalan tergantung kepada jumlah murid yang ada dan keinginan guru untuk menyampaikan materi yang ada. Waktu permainan tergantung waktu yang tersedia.

Diposkan oleh ivanisparizi pmt c di 21:58 0 komentar

FUNGSI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A.PENGERTIAN MEDIA

Kata media berasal dari bahasa latin MEDIUS yang secara harfiah”tengah”,”perantara”,atau “pengantar”.Dalam bahasa arab,media adalah perantara [ ] atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.Gerlach & Eli (1971) mengatakan bahwa media apabila di pahami secara garis besar adalah manusia,materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,keterampilan,atau sikap.

Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology,1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang di gunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.Di samping sebagai system penyampai atau pengantar,media juga di sebut dengan mediator.Dengan istilah mediator media menunjukan funsi atau peran nya,yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar – siswa dan isi pelajaran.Ringkas nya,media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan- pesan pengajaran.

Apabila media itu membawa pesan- pesan atau informasi tang bertujuan instruksional mengandung maksud – maksud pengajaran maka media itu di sebut media pengajaran.Jadi media secara umum adalah untuk memotivasi dan meransang kepada siswa supaya mengerti apa yang di sampaikan.Dengan kata lain,media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat meransang siswa untuk belajar.

Istilah “media” bahkan sering di kaitkan atau di pergantikan dengan kata “teknologi” yang berasal dari kata latin tekne (bahasa inggris art) dan logos (bahasa Indonesia “ilmu”).

Menurut Webster (1983:105),”art” adalah keterampilan (skill) yang di peroleh lewat pengalaman,studi dan observasi.Dengan demikian, teknologi tidak lebih dari suatu ilmu yang membahas tentang keterampilan yang di peroleh lewat pengalaman,studi dan observasi.Bila di hubungkan dengan pendidikan dan pengajaran, maka teknologi mempunyai pengertian sbb:

Perluasan konsep tentang media, dimana teknologi bukan sekadar benda,alat, bahan atau perakas, tetapi tersimpul pula sikap,perbuatan, organisasi dan manajemen yang berhungan dengan penerapan ilmu. Dalam kegiatan belajar mengajar, pemakaian kata media pengajaran di gantikan dengan istilah- istilah seperti alat pandang-dengar,bahan pengajaran (instructional material),komunikasi pandang- dengar(audio- visual communication),pendidikan alat peraga pandang(visual education),teknologi pendidikan(educational technology),alat peraga dan media penjelas.

Berdasarkan uraian beberapa batasan tentang media di atas,berikut di kemukakan cirri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan itu:

1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasaini di kenal sebagai hardware( perangkat keras),yaitu suatu benda yang dapat di lihat, di dengar atau diraba dengan pancaindra.

2. Media pendidikan memiliki pengertian non- fisik yang dikenal sebagai software(perangkat lunak),yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingindisampaikan kepada siswa.

3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.

4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun didalam kelas.

5. Media pendidikan di gunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

6. Media pendidikan dapat digunakan secara massa (misalnya: radio, televisi),kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film,slide, video, OHP),atau perorangan ( misalnya: modul, computer, radio tape/kaset, video recorder).

7. Sikap, perbuatan,organisasi, strategi, dan manajemen yang berhungan dengan penerapan suatu ilmu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran disekolah pada khususnya.

B. LANDASAN TEORETIS PENGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN

Menurut Bruner (1966:10-11) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung(enactive),pengalaman pictorial / gambar(iconic),dan pengalaman abstrak (symbolic).Pengalaman lansgung adalah mengerjakan,misalnya arti kata “simpul” dipahami dengan langsung membuat simpul. Pada tingkatn kedua yang diberi label iconic (artinya gambar atau image), kata “simpul” dipelajari dari gambar , lukisan, foto, atau film.Selanjutnya, pada tingkatan symbol , siswa membaca (atau mendengar) kata “simpul”dan mencoba mencocokkannya dengan “simpul” pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat “simppul”.Ketiga tingkatan tersebut saling berinteraksi dalam upaya memperoleh “pengalaman “(pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.

Salah satu gambaran yang paling banyak di jadikan acuan sebagai landasan teori pengunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone 0f Experience (kerucut pengalaman Dale) (Dale, 1969). Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner. Hasil belajar seseorang diproleh mulai dari pengalaman langsung (kongkret ), kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak).semakin ke atas di puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu.perlu di catat bahwa urut – urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya.

Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu oleh karena ia melibatkan indra penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.

c. cirri-ciri media pendidikan

gerlach dan eli (1971) mengemukakan tiga cirri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang mendapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu(atau kurang efesien) dilakukannya

a. Ciri fiksatif (fixative property)

Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2011 in Tak Berkategori

 

Meruntuhkan Mitos Matematika “Menakutkan” Menjadi “Menyenangkan”

Mendengarkan kata ”Matematika”, kebanyakan orang akan merasakan sesuatu yang tak menyenangkan. Mereka akan membayangkan angka-angka yang rumit dan susah dipecahkan, terbayang rumus-rumus yang sulit dihapal dan dimengerti. Matematika juga sering dipahami sebagai sesuatu yang mutlak sehingga seolah-olah tidak ada kemungkinan cara menjawab yang berbeda terhadap suatu masalah. Matematika dipahami sebagai sesuatu yang serba pasti. Siswa yang belajar di sekolah pun menerima pelajaran matematika sebagai sesuatu yang mesti tepat dan sedikitpun tak boleh salah. Sehingga matematika menjadi beban dan bahkan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Banyak mitos menyesatkan mengenai matematika. Mitos-mitos salah ini memberi andil besar dalam membuat sebagian masyarakat merasa alergi bahkan tidak menyukai matematika. Akibatnya, mayoritas siswa kita mendapat nilai buruk untuk bidang studi ini, bukan lantaran tidak mampu, melainkan karena sejak awal sudah merasa alergi dan takut sehingga tidak pernah atau malas untuk mempelajari matematika. Meski banyak ”mitos” sesat yang sudah mengakar dan menciptakan persepsi negatif terhadap matematika, antara lain:
1. Matematika adalah ilmu hafalan dari sekian banyak rumus. Mitos ini membuat siswa malas mempelajari matematika dan akhirnya tidak mengerti apa-apa tentang matematika. Padahal, sejatinya matematika bukanlah ilmu menghafal rumus, karena tanpa memahami konsep, rumus yang sudah dihafal tidak akan bermanfaat. Sebagai contoh, ada soal berikut, “Basri merakit sebuah mesin 6 jam lebih lama daripada Abrar. Jika bersama-sama mereka dapat merakit sebuah mesin dalam waktu 4 jam, berapa lama waktu yang diperlukan oleh Abrar untuk merakit sebuah mesin sendirian ?”. Seorang yang hafal rumus persamaan kuadrat tidak akan mampu menjawab soal tersebut apabila tidak mampu memodelkan soal tersebut ke dalam bentuk persamaan kuadrat. Sesungguhnya, hanya sedikit rumus matematika yang perlu (tapi tidak harus) dihapal, sedangkan sebagian besar rumus lain tidak perlu dihafal, melainkan cukup dimengerti konsepnya. Salah satu contoh, jika siswa mengerti konsep anatomi bentuk irisan kerucut, maka lebih dari 90 persen rumus-rumus irisan kerucut tidak perlu dihafal.
2. Matematika adalah ilmu abstrak dan tidak berhubungan dengan realita. Mitos ini jelas-jelas salah kaprah, sebab fakta menunjukkan bahwa matematika sangat realistis. Dalam arti, matematika merupakan bentuk analogi dari realita sehari-hari. Contoh paling sederhana adalah solusi dari Leonhard Euler, matematikawan Prancis, terhadap masalah Jembatan Konisberg. Selain itu, hampir di semua sektor, teknologi, ekonomi dan bahkan sosial, matematika berperan secara signifikan. Robot cerdas yang mampu berpikir berisikan program yang disebut sistem pakar (expert system) yang didasarkan kepada konsep Fuzzy Matematika. Hitungan aerodinamis pesawat terbang dan konsep GPS juga dilandaskan kepada konsep model matematika, geometri, dan kalkulus. Hampir semua teori-teori ekonomi dan perbankan modern diciptakan melalui matematika.

3. Matematika adalah ilmu yang membosankan, kaku, dan tidak rekreatif. Anggapan ini jelas keliru. Meski jawaban (solusi) matematika terasa eksak lantaran solusinya tunggal, tidak berarti matematika kaku dan membosankan. Walau jawaban (solusi) hanya satu (tunggal), cara atau metode menyelesaikan soal matematika sebenarnya boleh bermacam-macam.
TOT (Training of Trainers) Module Implementation Team (MIT) Paket Adaptasi Matematika Kohort II DBE2 Sulawesi Selatan (Makassar, Pinrang, Sidrap, Luwu) yang digelar tanggal 13 sampai 17 Januari 2009  di Makassar, setidaknya menjawab dan meruntuhkan mitos-mitos yang berkembang selama ini di tengah-tengah hiruk pikuk pembelajaran matematika, terutama di Sekolah Dasar. Matematika yang dimitoskan banyak orang dibedah oleh 41 peserta yang terdiri dari Master Teacher Trainer, Pemandu Bidang Studi Matematika, Dosen-Dosen Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah maupun Dosen Universitas Negeri Makassar, Widiyaiswara LPMP, Pengawas Pendidikan Depag, Distric Learning Coordinator (DLC) DBE2 Sul-Sel yang menghasilkan beberapa point penting yang akan diimplemetasiukan pada Pelatihan Tim Sekolah (PTS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah(K3S),maupun Kelompok Kerja Guru (KKG) sampai Bantuan Profesional Sekolah (BPS) atau Pendampingan, untuk menghasilkan pembelajaran Matematika yang menyenangkan, dan tidak membosankan.

Tujuan TOT adalah: menghasilkan tujuan dan mekanisme pelatihan serta isi paket adaptasi Matematikan kepada peserta pelatihan (MIT); Meningkatkan kemampuan MIT sebagai fasilitator Paket Adaptasi Matematika., Mensimulasikan seluruh sesi/topik Paket Adaptasi Matematika untuk PTS, K3S, KKG dan BPS, serta Action Plan. Dengan mengusung Topik Pelatihan, antara lain: Pembelajaran Matematika bernuansa PAKEM; Hakikat dan Tujuan Pembelajaran Matematika; Permainan Matematika; Teori-Teori Belajar Matematika; Model Pembelajaran Matematikia; Pembelajaran Matematika Berbasis ICT; Pembelajaran Remedial dan Pengayaan; Alat Peraga Murah, Pemberdayaan sekolah; Penilaian pembelajaran Matematika; Belajar matematika yang Menyenangkan.

Sehubungan dengan apriori berlebihan terhadap matematika, terdapat beberapa penyebab diantaranya adalah adanya penekanan yang berlebihan pada penghafalan rumus, kecepatan menghitung, metode pengajaran yang otoriter (kurang bervariasi) dalam proses belajar dan mengajar matematika. Untuk mengatasi hal ini, yang sangat berperan penting adalah guru matematika, yang harus bisa mengubah metode pengajarannya untuk siswa dalam proses belajar mengajar tanpa mengesampingkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang pembelajaran matematika. Demikian pernyataan yang disampaikan Darwing Paduppai dan Amir Daud disela-sela penyajian materi TOT.
Tujuan jangka pendek dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan dapat memahami materi matematika yang dipelajarinya dan dapat menggunakannnya pada pelajaran lain atau kehidupan nyata dan bekal untuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Tujuan jangka panjangnya adalah siswa dapat mengambil ”nilai-nilai matematika” dan mengaplikasikannya untuk kehidupan. Nilai-nilai yang dimaksud adalah penalaran, kedisiplinan, kejujuran, kebertanggung jawaban, kesetiakawanan dan lain-lain.
Matematika tidak lagi hanya terfokus pada hitungan aritmatika semata tetapi matematika tetapi lebih kepada penalaran yang menggunakan logika. Matematika bukan hanya sekedar aktifitas penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian. Belajar matematika pada zaman sekarang harus aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan hidup. Matematika hendaknya harus akrab dngan topik dan persoalan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari (bagaimana anak memaknai matematika). Salah satu cara agar anak cinta pada matematika adalah membiasakan anak menemukan konsep matematika melalui permainan dan suasana yang santai. Siswa mempelajari matematika melalui pengalaman pengajaran yang disediakan oleh gurunya. Sehingga guru harus tahu dan benar-benar memahami matematika yang mereka ajarkan serta memahami bagaimana cara siswanya mempelajari matematika sehingga dapat memotivasi mereka dalam membentuk kebiasaan belajar yang efektif dan efisien, sebagaimana yang diungkapkan Muhammad Darwis, Ketua Jurusan Matematika Universitas Negeri Makassar.

Memang tidak ada suatu standar yang baku dalam mengajar matematika, tetapi guru perlu mengukur apakah cara mereka mengajar sudah benar-benar efektif sesuai dengan siswa yang dihadapinya pada saat tertentu. Jenjang Profesionalitas juga berfungsi sebagai alat untuk membimbing guru-guru yang belum berpengalaman dengan nantinya harus berada dibawah pengawasan oleh mereka yang sudah berpengalaman. Selain itu Jenjang Profesionalitas juga mengatur seberapa jauh hak seorang guru dalam memodifikasi cara mengajar, bereksperimen dengan alat bantu pengajar yang baru atau juga dalam memperluas kurikulum yang ada.
Selain mengajar, guru juga bertanggung jawab dalam membangun atmosfer akademik di dalam kelas, yang akan dibahas lebih lanjut dalam Standar Kualitas ke-3 tentang Atmosfer Akademik. Atmosfer ini sebenarnya bertujuan untuk membentuk Karakter siswa terutama berkaitan dengan nilai-nilai akademik utama yaitu sikap Ilmiah dan Kreatif. Guru perlu menekankan nilai-nilai inti yang berhubungan dengan pengembangan sikap Ilmiah dan Kreatif dalam setiap tugas yang diberikan kepada siswanya, dalam membimbing siswa memecahkan suatu persoalan atau juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa.
Untuk menetapkan model pembelajaran yang menyenangkan agar tujuan pembelajaran matematika tercapai dengan maksimal, maka harus diupayakan agar siswa lebih mengeti dan memahami materi yang diajarkan dibandingkan harus mengejar target kutikulum tanpa dibarengi pemahaman materi. Pembelajaran yang berorientasi pada siswa ini diantaranya dapat dilakukan dengan cara pendampingan siswa satu per satu atau perkelompok. Penjelasan materi dan contoh penyelesaian soal diberikan di depan kelas secara klasikal, kemudian pada saat siswa mengerjakan latihan guru berkeliling untuk memperhatikan siswa secara personal. Dengan cara seperti ini, siswa yang memiliki kemampuan yang kurang akan mendapatkan perhatian lebih dibandingkan dengan siswa yang pintar.

Menurut Muthmainnah (MTT Makassar), mengungkapkan bahwa Matematika yang menyenangkan dapat pula disuguhkan dalam bentuk permainan, lagu-lagu yang diciptakan sendiri atau gambar-gambtar yang memadukan angka dengan hewan atau bunga dan buah-buahan. Jika anak salah menjawab jangan pernah memarahi, menghukum atau mencela, tetap berikan pujian dan kemudian mengulangi pertanyaan sambil menjelaskan jawaban yang tepat.

Runtuhnya Mitos Matematikia  yang Menakutkan menjadi MenyenangkanRuntuhnya Mitos Matematika yang Menakutkan menjadi Menyenangkan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2011 in Tak Berkategori

 

080424110713004

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2009 in 1

 

Rahasia Otak Super/Cara Cepat Menghitung

Rahasia Otak Super/Cara Cepat Menghitung
Dari Wikibooks Indonesia, sumber buku teks bebas berbahasa Indonesia
Teknik Jarimatika

1)Penjumlahan dan Pengurangan

Tangan Kanan sebagai satuan dan tangan kiri sebagai puluhan.

Tangan Kanan:
– Telunjuk dibuka = 1
– (Telunjuk + Jari Tengah) dibuka = 2
– (Telunjuk + Jari Tengah + Jari manis) dibuka = 3
– (Telunjuk + Jari Tengah + Jari manis + Kelingking) dibuka = 4
– (Telunjuk + Jari Tengah + Jari manis + Kelingking) ditutup + Jempol dibuka = 5
– (Jempol + Telunjuk) dibuka = 6
– (Jempol + Telunjuk + Jari Tengah) dibuka = 7
– (Jempol + Telunjuk + Jari Tengah + Jari Manis) dibuka = 8
– (Jempol + Telunjuk + Jari Tengah + Jari Manis + Kelingking) dibuka = 9
Tangan Kiri:
– Telunjuk dibuka = 10
– (Telunjuk + Jari Tengah) dibuka = 20
– (Telunjuk + Jari Tengah + Jari manis) dibuka = 30
– (Telunjuk + Jari Tengah + Jari manis + Kelingking) dibuka = 40
– (Telunjuk + Jari Tengah + Jari manis + Kelingking) ditutup + Jempol dibuka = 50
– (Jempol + Telunjuk) dibuka = 60
– (Jempol + Telunjuk + Jari Tengah) dibuka = 70
– (Jempol + Telunjuk + Jari Tengah + Jari Manis) dibuka = 80
– (Jempol + Telunjuk + Jari Tengah + Jari Manis + Kelingking) dibuka = 90

Sumber : http://id.wikibooks.org/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 20, 2009 in 1